JOMBANG – Perubahan nyata dimulai dari keberanian menembus batas. Itulah yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jombang saat membuka akses menuju Dusun Kedungdendeng, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan—wilayah tapal batas yang selama ini terisolasi oleh rimba dan medan ekstrem.
Kamis (8/1/2026), Bupati Jombang Warsubi bersama Wakil Bupati Gus Salman, jajaran TNI–Polri, dan pimpinan OPD turun langsung ke lokasi. Perjalanan tidak mudah. Rombongan harus menggunakan motor trail melintasi hutan untuk memastikan pembangunan benar-benar berjalan di titik paling sulit.
“Keadilan pembangunan tidak boleh berhenti di kota. Dusun terpencil harus menjadi prioritas perubahan,” tegas Warsubi di hadapan warga.
Pembangunan jalan Kedungdendeng menjadi contoh pendekatan inovatif berbasis kolaborasi. Pemkab Jombang menggandeng TNI dan Polri melalui skema Karya Bhakti, sebuah model kerja lintas sektor yang dirancang untuk menjawab tantangan geografis ekstrem.
Total anggaran Rp4 miliar dialokasikan untuk pembangunan jalan beton.
Tahap pertama dikerjakan Kodim 0814 Jombang sepanjang 1,2 kilometer dengan anggaran Rp2 miliar.
Tahap lanjutan akan diselesaikan bersama Polres Jombang dengan nilai anggaran yang sama.
Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoro Adi menegaskan, proyek ini tidak hanya soal infrastruktur, tetapi tentang strategi pembangunan yang adaptif.
“Medan berat menuntut cara kerja yang kuat dan terukur. Karya Bhakti menjadi jawaban agar pembangunan tetap berjalan cepat dan tepat sasaran,” ujarnya.
Bagi warga Kedungdendeng, jalan ini adalah jalan harapan. Selama bertahun-tahun, distribusi hasil pertanian tersendat, akses sekolah terbatas, dan layanan kesehatan harus ditempuh dengan risiko tinggi. Pembangunan jalan beton diyakini akan menjadi pengungkit ekonomi dan kualitas hidup masyarakat.
Pemkab Jombang menegaskan, proyek ini menjadi bagian dari komitmen besar membangun wilayah pinggiran sebagai pusat pertumbuhan baru.
“Perubahan tidak boleh setengah-setengah. Jalan ini harus tuntas, fungsional, dan memberi dampak langsung bagi warga,” tandas Warsubi.
Di tengah rimba Plandaan, pembangunan jalan Kedungdendeng menjadi simbol bahwa pembangunan berkeadilan dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama. (Nor)
