Tokoh Ansor Jombang KH Fadlullah Malik Wafat, Jejak Pengabdian Gus Fad untuk NU dan Rakyat

Gus Fad Bersama Mbah Lem (Kiri) Gus Fad Bersama Mbah Mun (Kanan)

Oleh : Pimred

JOMBANG | Bangkit Nusantara News.id – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Nahdlatul Ulama dan Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Jombang. Tokoh Ansor yang dikenal sederhana dan penuh pengabdian, KH Fadlullah Malik atau akrab disapa Gus Fad, wafat pada Minggu, 10 Mei 2026.

Kepergian Gus Fad meninggalkan duka mendalam bagi kalangan nahdliyin, kader Ansor, sahabat, murid, hingga masyarakat yang mengenalnya sebagai sosok rendah hati dan dekat dengan rakyat kecil.

Nama Gus Fad tidak hanya dikenal di lingkungan organisasi. Ia merupakan figur yang pernah aktif di berbagai ruang pengabdian, mulai dari Gerakan Pemuda Ansor, dunia pendidikan, sosial kemasyarakatan, hingga politik. Namun bagi banyak orang, jabatan bukanlah identitas utama dirinya.

Meski pernah menjadi bagian dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), duduk di DPRD, hingga aktif dalam gerakan anti narkoba, Gus Fad tetap tampil sederhana. Ia lebih sering terlihat duduk santai di warung kopi, berdiskusi bersama masyarakat tanpa sekat.

Gus Fad bersama Gus Gur

Kedekatan Gus Fad dengan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga menjadi cerita tersendiri di kalangan Ansor dan warga NU. Hubungan keduanya disebut bukan sekadar hubungan organisasi, melainkan hubungan batin dan pemikiran.

Salah satu kisah yang kerap dikenang adalah ketika Gus Fad sedang bercerita tentang Gus Dur dalam sebuah guyonan khas Ansor. Di tengah cerita, tiba-tiba telepon genggamnya berdering dan ternyata panggilan itu datang langsung dari Gus Dur. Peristiwa tersebut membuat orang-orang di sekitarnya terdiam kagum karena dianggap sebagai “kebetulan” yang terlalu tepat.

Dalam perjalanan hidupnya, Gus Fad dikenal memilih jalur pengabdian dibanding mengejar kekuasaan. Meski beberapa kali didorong maju dalam kontestasi politik daerah, ia memilih tetap berada di jalur khidmah bersama Ansor dan dunia pendidikan.

Menjadi guru adalah pilihan hidup yang paling ia cintai. Di ruang kelas, Gus Fad merasa bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus larut dalam kepentingan politik maupun pencitraan.

Bagi kader Ansor Jombang, Gus Fad bukan hanya tokoh organisasi, tetapi teladan tentang kesetiaan terhadap perjuangan dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama.

Kepergian Gus Fad menjadi kehilangan besar bagi warga NU Jombang. Namun jejak pengabdiannya diyakini akan terus hidup di tengah masyarakat, di ruang-ruang diskusi sederhana, di barisan Ansor, dan dalam ingatan para murid serta sahabatnya.

“Menjadi besar tidak harus terlihat besar,” menjadi nilai hidup yang seolah diwariskan Gus Fad kepada banyak orang.

Selamat jalan Gus Fad. Doa warga Nahdlatul Ulama mengiringi langkah pengabdianmu menuju keabadian.

Exit mobile version