Oleh : H M Siswoyo S.H., M.H
MEKAH | BangkitNusantaraNews.id – MEKAH — Ahad, 11 Ramadlon 1447 H bertepatan 1 Maret 2026, rombongan jamaah umrah yang dipimpin Dr. K.H. Muhammad Qosim, M.Si—akrab disapa Abah Qosim—menuju kawasan Hudaibiyah, salah satu miqod umrah/haji di barat Mekah.
Di kawasan ini berdiri Masjid Ar-Ridlwan, situs bersejarah tempat terjadinya Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-7 Hijriyah. Di sinilah Rasulullah SAW melakukan Bai’at Al-Ridlwan bersama sekitar 1.400 sahabat saat hendak menunaikan umrah. Perjanjian damai antara Nabi Muhammad SAW dan kaum Quraisy selama sepuluh tahun itu menjadi titik balik sejarah yang bermuara pada Fathu Makkah.
Di dalam perjalanan, Abah Qosim menyampaikan tausiyah tentang pentingnya membaca strategi Rasulullah SAW dalam konteks kekinian: bahwa kemenangan tidak selalu diraih melalui konfrontasi, tetapi melalui kecerdasan membaca momentum dan kesabaran kolektif.
Perubahan Fisik dan Kenangan 20 Tahun Lalu
Bagi sebagian jamaah, kunjungan ke Masjid Ar-Ridlwan juga membangkitkan memori lama. Tahun 2006, lokasi ini dinilai kurang terawat dan fasilitas air terbatas. Kini, kawasan tersebut terlihat jauh lebih tertata. Fasilitas membaik dan aktivitas ekonomi warga sekitar turut menghidupkan suasana.
Namun bukan perubahan fisik itu yang paling menyita perhatian.
Di salah satu sudut mihrab, tampak sebuah radio antik.
Benda sederhana, tanpa layar digital dan tanpa fitur canggih, berdiri kontras di tengah modernisasi sistem audio masjid. Keberadaannya mengundang tanya sekaligus rasa takjub.
Radio itu mengingatkan pada Mushollah Baiturrahmah di Dusun Dapurno, Desa Dapurkejambon, Jombang. Di mushollah kecil tersebut, seorang marbot bernama Pak Solikan telah lebih dari 30 tahun mengabdikan diri.
Setiap menjelang waktu shalat, radio diputar. Terutama pukul 03.00 dini hari, siaran Surabaya menjadi penanda waktu sekaligus sarana membangunkan warga untuk berjamaah. Meski kini mushollah telah dilengkapi perangkat modern, radio tetap dipertahankan.
Bagi Pak Solikan, radio bukan sekadar alat. Ia adalah bagian dari tradisi dan komitmen.
Di era digital, radio mungkin dianggap usang. Namun di dua tempat berbeda—Hudaibiyah dan kampung kecil di Jombang—radio justru menjadi simbol yang sama: ketekunan menjaga suara kebaikan.
Hudaibiyah mengajarkan visi besar dan strategi perubahan. Mushollah kampung mengajarkan konsistensi dan kesetiaan pada nilai.
Perubahan zaman memang tak terhindarkan. Modernisasi adalah keniscayaan. Tetapi keberlanjutan nilai ditentukan oleh manusia-manusia yang mau menjaga api kecil tetap menyala.
Dari radio antik di Masjid Ar-Ridlwan hingga radio sederhana di Mushollah Baiturrahmah, pesan yang muncul jelas: kemajuan teknologi boleh berkembang, namun ruh pengabdian tidak boleh hilang.
Karena perubahan sejati bukan hanya tentang sistem yang lebih canggih, melainkan tentang hati yang tetap setia. (Nor)
