BangkitNusantaraNews.id | Jombang – Di tengah hiruk-pikuk Muktamar NU ke-35, ketika dinamika organisasi, gagasan, dukungan, dan kepemimpinan menjadi perhatian banyak kalangan, sebuah kisah sederhana justru menghadirkan pesan yang jauh lebih dalam.
Namanya Maskhun Arif Hidayat. Kawan-kawannya memanggilnya Ndan Arif.
Ia datang dari Sumatera Selatan menuju Jombang. Namun perjalanan itu tidak ditempuh dengan pesawat, kendaraan mewah, atau fasilitas istimewa.
Ia memilih sepeda ontel.
Dengan kedua kaki mengayuh pedal, Ndan Arif menempuh perjalanan panjang melewati kilometer demi kilometer. Panas matahari, hujan, rasa lelah, dan panjangnya jalan tidak membuatnya mengurungkan niat.
Tujuannya satu: Tambakberas, Jombang, tempat Muktamar NU ke-35 digelar.
Namun ada pertanyaan yang lebih penting daripada berapa jauh perjalanan yang telah ditempuh.
Apa yang sebenarnya dicari Ndan Arif di Jombang?
Bukan jabatan.
Bukan kursi kepengurusan.
Bukan pula kekuasaan.
Ia datang untuk tabarruk, mencari keberkahan dan bersilaturahmi dengan para alim ulama.
Di situlah perjalanan seorang kader sederhana berubah menjadi pesan filosofis tentang bagaimana seharusnya cinta kepada organisasi dirawat.
Elite Menghitung Suara, Akar Rumput Menghitung Jarak
NU adalah organisasi besar.
Di tingkat elite, dinamika menjelang dan selama Muktamar tentu diwarnai perdebatan mengenai arah organisasi, kepemimpinan, program, dan masa depan Nahdlatul Ulama.
Tetapi di akar rumput, ada wajah seperti Ndan Arif.
Ia tidak menghitung berapa suara yang dimilikinya.
Ia justru menghitung berapa kilometer yang harus ditempuh untuk sampai ke Jombang.
Elite mungkin menghitung suara.
Akar rumput menghitung jarak.
Elite bisa berbicara tentang posisi.
Ndan Arif berbicara melalui pedal sepedanya.
Dan dari sana, kita menemukan ironi sekaligus keindahan NU.
Organisasi sebesar NU tidak hanya hidup di ruang sidang, hotel, kantor, atau forum elite. NU juga hidup di langgar kecil, pesantren, madrasah, rumah-rumah warga, serta hati jutaan nahdliyin yang mungkin tidak pernah duduk di kursi kepengurusan.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh dinamika politik organisasi.
Namun mereka mengenal barakah.
Mereka mungkin tidak hafal siapa yang sedang berkompetisi mendapatkan posisi.
Tetapi mereka hafal nama-nama kiai yang mereka hormati.
Mereka mungkin tidak memahami seluruh strategi elite.
Tetapi mereka tahu satu hal:
NU adalah rumah mereka.
Jangan Sampai NU Besar Secara Struktur, tetapi Kecil dalam Rasa
Perjalanan Ndan Arif menyimpan pesan penting bagi seluruh nahdliyin.
Jangan sampai NU menjadi organisasi yang besar secara struktur, tetapi kehilangan kedalaman rasa.
Jangan sampai kursi lebih berharga daripada persaudaraan.
Jangan sampai kemenangan dalam Muktamar justru melahirkan kekalahan bagi ukhuwah.
Sebab siapa pun yang nantinya memperoleh mandat kepemimpinan akan menjadi pengurus NU.
Tetapi yang membuat NU tetap hidup adalah jutaan nahdliyin yang mencintainya dengan cara masing-masing.
Ada yang mengabdi melalui pesantren.
Ada yang mengajar di madrasah.
Ada yang menghidupkan masjid dan musala.
Ada yang bekerja di tengah masyarakat.
Dan ada pula seperti Ndan Arif, yang membawa kecintaannya dengan mengayuh sepeda dari Sumatera Selatan menuju Jombang.
Sepedanya Tua, Tetapi Cintanya Tak Pernah Tua
Sepeda ontel itu mungkin telah melewati usia.
Namun semangat Ndan Arif justru menunjukkan bahwa kecintaan kepada NU tidak mengenal usia.
Kerutan di wajahnya boleh bertambah.
Tetapi harapannya kepada ulama tidak pernah tua.
Pedalnya mungkin sederhana.
Perjalanannya mungkin melelahkan.
Tetapi setiap kayuhan seolah menjadi doa yang bergerak dari Sumatera Selatan menuju Jombang.
Satu kayuhan, satu harapan.
Satu perjalanan, satu pengabdian.
Dan mungkin inilah pesan paling penting dari perjalanan seorang kader sederhana tersebut.
NU tidak akan besar hanya karena banyak orang ingin menjadi pemimpinnya.
NU akan semakin kuat ketika semakin banyak orang ikhlas mencintai dan mengabdi tanpa meminta balasan.
Dengarkan Suara Sepeda Itu
Kepada siapa pun yang memperoleh amanah dalam Muktamar NU ke-35, kisah Ndan Arif layak menjadi cermin.
Dengarkan suara sepeda itu.
Di balik bunyi rantai dan kayuhan pedalnya, ada pesan dari jutaan nahdliyin yang mungkin tidak memiliki panggung.
Jangan rebut NU untuk kepentingan diri sendiri. Rawatlah NU sebagai amanah bagi generasi.
Sebab perjalanan Ndan Arif telah memperlihatkan sesuatu yang terkadang terlupakan dalam hiruk-pikuk organisasi.
Jarak antara Sumatera Selatan dan Jombang dapat ditempuh dengan sepeda.
Namun jarak antara cinta dan kekuasaan hanya dapat ditempuh dengan satu kendaraan yang jauh lebih sulit:
Keikhlasan.
Dan mungkin, itulah hadiah paling sederhana sekaligus paling mahal yang dibawa Ndan Arif ke Muktamar NU ke-35: bukan proposal, bukan jabatan, melainkan cinta.














