JOMBANG | Bangkit Nusantara News.id – Ratusan warga Magersari, Mayangan Kedung, berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan untuk menggelar tasyakuran dan doa bersama memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut diikuti berbagai kalangan masyarakat, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu hingga anak-anak. Kebersamaan warga tampak menjadi bagian penting dari peringatan kemerdekaan yang tidak sekadar diisi dengan kemeriahan, tetapi juga refleksi dan rasa syukur atas perjuangan para pendahulu bangsa.
Prosesi tahlil dan doa bersama dipimpin oleh Hadi Siswanto, sementara tausiyah disampaikan oleh Drs Kiai Haji Musta’in.
Dalam ceramahnya, Kiai Haji Musta’in mengajak masyarakat tidak melupakan perjalanan panjang bangsa Indonesia. Menurutnya, kehidupan masyarakat saat ini jauh lebih baik dibandingkan kondisi pada masa perjuangan dan beberapa dekade setelah kemerdekaan.
Ia mengisahkan kondisi kehidupan warga Mayangan pada era 1940-an yang masih berada dalam keterbatasan pangan.
“Dulu warga Mayangan sangat sulit mencari makan. Sehari makan, dua hari tidak makan,” tutur Kiai Haji Musta’in dalam ceramahnya.
Kondisi tersebut, lanjutnya, juga masih terasa pada era 1950-an. Tidak semua masyarakat mampu menikmati nasi putih secara rutin. Keterbatasan ekonomi membuat sebagian warga mengandalkan berbagai jenis umbi-umbian sebagai bahan makanan sehari-hari.
Perjalanan waktu kemudian membawa perubahan besar.
Menurut Kiai Haji Musta’in, masyarakat sekarang dapat menikmati kondisi kehidupan yang jauh lebih baik. Akses pangan, kesehatan, pendidikan, hingga berbagai fasilitas sosial semakin terbuka.
Dulu Sulit Makan Nasi, Kini Anak-Anak Minum Susu
Perubahan tersebut juga terlihat dari pola kehidupan masyarakat.
Jika dahulu nasi menjadi makanan yang tidak selalu tersedia setiap hari, kini masyarakat relatif lebih mudah mendapatkan berbagai kebutuhan pangan.
“Sekarang jangankan makan nasi, makan roti pun anak-anak sudah biasa. Kecil sudah minum susu,” ujarnya.
Ia menilai perubahan tersebut harus menjadi alasan masyarakat untuk semakin bersyukur, bukan justru melupakan sejarah perjuangan bangsa.
Di bidang kesehatan, kondisi masyarakat juga dinilai mengalami perubahan signifikan. Pada masa lalu, masyarakat dengan keterbatasan ekonomi sering kesulitan mendapatkan layanan kesehatan ketika sakit.
Kini, pemerintah menghadirkan berbagai skema jaminan kesehatan, termasuk BPJS Kesehatan dan Kartu Indonesia Sehat (KIS), yang memberikan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara
Kiai Haji Musta’in menekankan bahwa kemerdekaan seharusnya dimaknai lebih dalam daripada sekadar upacara dan perayaan tahunan.
Kemerdekaan, menurutnya, adalah kesempatan bagi masyarakat untuk hidup lebih aman, memperoleh akses kebutuhan dasar, bekerja, beribadah, serta membangun masa depan tanpa tekanan penjajahan.
“Kita harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan pemerintah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar melihat kondisi Indonesia dengan rasa syukur. Menurutnya, masyarakat Indonesia patut bersyukur karena dapat hidup dalam suasana relatif damai dan menjalankan ibadah dengan tenang.
Karena itu, peringatan HUT RI ke-81 di Mayangan Kedung menjadi momentum untuk kembali mengingat jasa para pejuang, pahlawan, dan pendahulu bangsa yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan nyawa demi kemerdekaan Indonesia.
Doa untuk Pahlawan dan Para Pendahulu
Di penghujung ceramah, Kiai Haji Musta’in mengajak seluruh warga untuk tidak hanya menikmati hasil kemerdekaan, tetapi juga mengirimkan doa bagi mereka yang telah berjuang.
Para pahlawan dan syuhada, kata dia, telah mewariskan sebuah negara yang harus dijaga bersama.
“Mari kita panjatkan doa kepada para pendahulu, para pahlawan, para syuhada yang telah berjuang untuk negara Indonesia Raya,” ajaknya.
Tasyakuran warga Mayangan Kedung akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan hari kemerdekaan. Di tengah lampu kemeriahan HUT RI, warga diajak menoleh sejenak ke belakang—mengingat masa ketika sepiring nasi adalah kemewahan, lalu mensyukuri hari ketika generasi hari ini dapat hidup, belajar, beribadah, dan menikmati berbagai kemudahan dalam suasana damai.
Kemerdekaan, dalam konteks tersebut, bukan hanya tentang merah putih yang berkibar, tetapi tentang sejauh mana generasi hari ini mampu menghargai pengorbanan generasi sebelumnya dan mewariskan Indonesia yang lebih baik kepada anak cucu.














