JOMBANG | Bangkit Nusantara News.id – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah usai. Seperti setiap perhelatan besar organisasi, ada pihak yang merasa puas, ada pula yang kecewa. Ada yang menilai proses berjalan demokratis, namun ada pula yang mempersoalkan sejumlah aturan kepanitiaan yang dianggap kurang memberikan ruang adil bagi para calon ketua umum.
Semua pandangan tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi.
Namun, menilai Muktamar Tambakberas hanya dari satu-dua persoalan tentu tidak cukup. NU memiliki sejarah panjang dalam menghadapi perbedaan, bahkan dalam situasi yang jauh lebih keras.
Sejarah NU Penuh Perbedaan
Muktamar Situbondo 1984 menjadi salah satu catatan penting. Saat itu muncul tarik-menarik antara kelompok yang dikenal sebagai kubu Cipete dan kubu Situbondo. Bahkan terdapat dinamika dua forum Munas dengan tokoh dan kepanitiaan berbeda.
Kubu Cipete diketuai Cholid Mawardi, sedangkan kubu Situbondo diketuai Gus Dur. Namun, dinamika tersebut pada akhirnya dapat diselesaikan melalui jalan kekeluargaan.
Lima tahun kemudian, Muktamar Yogyakarta 1989 juga tidak sepenuhnya berlangsung dalam suasana teduh. Perbedaan pandangan antara sejumlah kiai sepuh dengan Gus Dur pernah mengemuka cukup keras.
Sikap Gus Dur yang humanis, terbuka terhadap kebudayaan dan gagasan yang beragam bahkan pernah memunculkan kritik dari sebagian kalangan. Julukan “kiai ketoprak” menjadi salah satu gambaran bagaimana tajamnya perbedaan saat itu.
Namun, lagi-lagi NU menemukan jalan keluarnya melalui tradisi taslim dan kultur ke-NU-an yang mengedepankan kebersamaan.
Cipasung dan Tekanan Politik
Dinamika yang lebih keras kembali terlihat dalam Muktamar Cipasung 1994. Saat itu, politik negara juga ikut mewarnai kontestasi internal NU.
Di tengah kuatnya kekuasaan Presiden Soeharto, muncul gerakan politik yang kemudian dikenal dengan istilah ABG, Asal Bukan Gus Dur.
Namun sejarah mencatat, suara warga NU menunjukkan bahwa kedaulatan organisasi tidak mudah ditentukan oleh kepentingan dari luar.
Dari rangkaian sejarah tersebut terlihat satu pola penting: NU memiliki mekanisme sosial dan kultural untuk menyelesaikan persoalan internalnya sendiri.
Kritik Boleh, Rumah Bersama Jangan Runtuh
Jika dibandingkan dengan sejumlah ujian sejarah tersebut, dinamika Muktamar ke-35 di Tambakberas relatif berada dalam skala yang lebih ringan.
Persoalan yang mencuat terutama berkaitan dengan tata aturan kepanitiaan serta persepsi mengenai keadilan antarkandidat Ketua Umum PBNU.
Apakah kritik tetap diperlukan?
Tentu.
Kritik merupakan bagian penting dari organisasi yang sehat. Tetapi kritik tidak semestinya berubah menjadi vonis bahwa NU gagal menjalankan demokrasi.
Justru melalui perbedaan pandangan, perdebatan, kritik dan proses musyawarah, NU sedang memperlihatkan wajah demokrasinya.
Demokrasi tidak selalu berarti semua pihak pulang dengan membawa kemenangan.
Demokrasi juga berarti menerima keputusan bersama, menjaga persaudaraan dan tetap mengakui bahwa organisasi lebih besar daripada kepentingan kelompok.
NU Bukan Sekadar Organisasi
NU bukan sekadar organisasi massa. Ia tumbuh dari pesantren, tradisi keilmuan, kultur musyawarah dan pengalaman panjang masyarakat sipil Indonesia dalam menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, setiap konflik internal NU seharusnya ditempatkan dalam perspektif sejarah yang lebih panjang.
Perbedaan merupakan sesuatu yang biasa.
Yang luar biasa adalah ketika perbedaan tidak membuat rumah bersama terbakar.
Tambakberas kembali memberikan pelajaran bahwa demokrasi NU tidak harus sempurna untuk disebut dewasa.
Sebab kedewasaan bukan ditandai dengan tidak adanya konflik.
Kedewasaan justru terlihat ketika konflik tidak membuat rumah bersama runtuh.
Para muktamirin telah bermusyawarah. Kepemimpinan baru telah ditetapkan. Kini pertarungan suara harus berhenti dan khidmah harus dimulai.
Yang kalah tidak harus menjadi musuh.
Yang menang tidak boleh menjadi penguasa atas mereka yang berbeda pilihan.
Sebab pada akhirnya, tidak ada kubu yang lebih besar daripada Nahdlatul Ulama itu sendiri.
Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa NU mampu melewati badai internalnya.
Maka, percayalah kepada NU.
Berbeda boleh. Mengkritik boleh. Berdebat boleh. Tetapi jangan sampai lupa: NU adalah rumah bersama.
Oleh : Ikhsan Effendi Penulis buku Tongkat dan tasbih














