JOMBANG | Bangkit Nusantara News.id – Tradisi keagamaan yang telah mengakar selama puluhan tahun kembali menunjukkan eksistensinya. Jamaah Istighotsah Al Mujahadah Dusun Tugurejo, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, hingga kini konsisten menjaga kegiatan syiar agama sejak berdiri pada 1989.
Pada Sabtu (5/9/2026), jamaah menggelar rutinan istighotsah sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan tersebut diisi tausiyah oleh Kiai Karim Elmuna, pengasuh Pondok Pesantren Ribath Darul Mansyur, Mayangan, Jogoroto, Jombang.
Empat Dekade Menjaga Tradisi Keagamaan
Dalam tausiyahnya, Kiai Karim mengajak jamaah untuk melihat kebaikan yang telah diwariskan para pendahulu. Menurutnya, keberlangsungan Jamaah Istighotsah Al Mujahadah selama puluhan tahun merupakan salah satu bentuk nyata perjuangan dalam menjaga syiar agama di tengah masyarakat.
“Setiap orang itu pasti ada kebaikannya, seperti pendiri jamaah ini. Sampai sekarang masih tetap eksis dengan rutinan istighotsah,” ujar Kiai Karim.
Menurutnya, tradisi keagamaan tidak boleh berhenti pada satu generasi. Nilai-nilai baik yang telah dibangun para pendiri harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Maulid Bukan Sekadar Seremonial
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW juga dimanfaatkan Kiai Karim untuk mengajak jamaah mengenal sekaligus meneladani akhlak Rasulullah SAW.
Ia menekankan besarnya kasih sayang Rasulullah kepada umatnya. Kecintaan tersebut menjadi teladan agar umat Islam juga meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah melalui ibadah, shalawat dan pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
“Rasulullah itu adalah orang yang paling cinta kepada umatnya,” ungkapnya.
Kiai Karim kemudian mengajak jamaah memperbanyak shalawat sebagai salah satu bentuk ungkapan cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Salah satu shalawat yang disampaikan adalah Sholawat Qod Dloqot hilati adrikni yaa Rosulalloh, yang memuat ungkapan permohonan dan harapan kepada Rasulullah SAW.
Pesan utamanya, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan tersebut harus tercermin dalam akhlak, ibadah, kepedulian terhadap sesama dan kesungguhan menjalankan tuntunan agama.
Syiar yang Dirawat Bersama
Keberadaan Jamaah Istighotsah Al Mujahadah selama lebih dari tiga dekade menjadi gambaran bahwa majelis keagamaan masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat.
Istighotsah menjadi ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak doa dan dzikir, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 21.10 WIB dan ditutup dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan ramah tamah.
Dari Tugurejo, Mayangan, Jombang, tradisi yang dirawat sejak 1989 kembali mengirimkan pesan sederhana: syiar agama tidak selalu lahir dari panggung besar. Ia bisa tumbuh dari majelis kecil, dirawat dengan keikhlasan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Red)
