JAKARTA | BangkitNusantaraNews.id – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menanggapi santai tudingan yang menyebut dirinya tidak bisa mengaji.
Alih-alih membalas tudingan tersebut dengan pernyataan keras, Gus Kikin memilih bersikap tenang. Ia meminta pihak yang menyampaikan tudingan agar membuktikannya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pendapat dan kritik sebaiknya disikapi dengan kepala dingin serta mengedepankan tabayyun, bukan sekadar saling melempar tuduhan.
Sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, Gus Kikin kini menghadapi agenda besar untuk menata organisasi dan memastikan roda kepengurusan segera berjalan.
Ia menargetkan struktur kepengurusan PBNU dapat segera terbentuk, maksimal dalam waktu satu bulan. Menurutnya, keberadaan struktur kepengurusan menjadi kebutuhan penting agar organisasi dapat segera menjalankan program kerja secara efektif.
Tantangan Rekonsiliasi Internal
Pengamat Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menilai salah satu tantangan utama Gus Kikin adalah melakukan rekonsiliasi internal setelah dinamika dan persaingan antarfaksi dalam Muktamar ke-35 NU.
Menurutnya, seluruh kelompok perlu dirangkul dalam kepengurusan PBNU yang baru. Konsolidasi menjadi penting agar perbedaan selama proses muktamar tidak berlanjut menjadi persoalan yang menghambat jalannya organisasi.
PBNU juga dinilai perlu mengarahkan energi organisasi pada persoalan yang menyentuh langsung kehidupan warga Nahdliyin, terutama dalam bidang pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
NU Diminta Tetap Jaga Khittah
Selain persoalan konsolidasi, NU di bawah kepemimpinan Gus Kikin juga diingatkan untuk tetap menjaga khittah organisasi.
Kepentingan politik praktis jangan sampai menggeser fokus utama jam’iyyah dalam menjalankan amanah sosial, keagamaan, pendidikan, ekonomi, dan kemasyarakatan.
Dalam perspektif nilai-nilai Islam, kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, perbedaan pandangan semestinya diselesaikan melalui musyawarah, tabayyun, dan adab, bukan dengan tudingan tanpa dasar.
Kini, tantangan Gus Kikin bukan hanya menyusun kepengurusan, tetapi juga memastikan seluruh elemen NU dapat kembali berjalan dalam satu barisan untuk menjawab kebutuhan umat.
Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari kontrol organisasi. Namun, kritik harus dibangun di atas fakta dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. (***)
