banner 728x90

Refleksi Muktamar NU ke-35: Belajar dari Sejarah Majapahit, Menjaga Persatuan Nahdlatul Ulama

Menjelang Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, refleksi sejarah Majapahit mengingatkan pentingnya amanah, musyawarah, dan persatuan agar Nahdlatul Ulama tetap menjadi penyangga keutuhan bangsa dan peradaban.

Pimred
Gambar Ilustrasi AI

Oleh : R Hadi Siswanto

JOMBANG | BangkitNusantaraNews.id – Ada sebuah ungkapan yang kerap dikutip para sejarawan: sejarah tidak selalu berulang, tetapi sering menghadirkan pola yang mengingatkan manusia pada pelajaran masa lalu. Karena itu, sejarah semestinya dibaca bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan sebagai sumber hikmah agar kesalahan yang sama tidak kembali terjadi.

Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagian masyarakat kembali menoleh pada lembar-lembar historiografi Jawa yang mengisahkan awal berdirinya Kerajaan Majapahit. Nama-nama seperti Rangga Lawe, Patih Nambi, Lembu Sora, Kebo Anabrang, dan Mahapati Halayudha kembali menjadi bahan perbincangan sebagai refleksi sejarah, bukan sebagai alat untuk menilai dinamika organisasi saat ini.

Dalam naskah klasik seperti Pararaton dan Kidung Rangga Lawe, tokoh-tokoh tersebut digambarkan memainkan peran penting dalam perjalanan awal Majapahit. Rangga Lawe dikenang sebagai panglima yang berjasa, Patih Nambi dipercaya menjadi mahapatih, Kebo Anabrang dikenal sebagai panglima kerajaan, Lembu Sora sebagai tokoh senior yang disegani, sementara Mahapati Halayudha sering digambarkan sebagai sosok yang piawai dalam strategi politik.

Terlepas dari berbagai perdebatan akademik mengenai detail peristiwa maupun lokasi yang dikisahkan, narasi tersebut telah menjadi bagian dari khazanah sejarah dan budaya Jawa. Dalam tradisi lokal, kawasan Sungai Petengan di sekitar Tambakberas juga kerap dikaitkan dengan episode konflik Rangga Lawe, meskipun aspek historisnya masih menjadi ruang kajian para sejarawan.

Lebih dari tujuh abad kemudian, Tambakberas kembali menjadi tempat berkumpulnya para tokoh bangsa. Namun suasananya sangat berbeda. Jika dahulu wilayah ini dikaitkan dengan kisah konflik dalam perebutan arah kekuasaan kerajaan, kini Tambakberas menjadi tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, forum permusyawaratan tertinggi organisasi yang akan memilih Ketua Umum PBNU melalui mekanisme konstitusi organisasi.

Di sinilah sejarah memberi ruang untuk merenung.

Muktamar NU bukanlah arena pertarungan, melainkan ruang musyawarah. Perbedaan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi besar. Namun ukuran kedewasaan organisasi bukanlah pada ada atau tidaknya perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan tersebut dikelola dengan adab, kebijaksanaan, serta semangat persaudaraan.

Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah mengajarkan bahwa musyawarah, ukhuwah, dan kemaslahatan umat harus selalu ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Kepemimpinan bukan sekadar hasil kompetisi, melainkan amanah yang mengandung tanggung jawab moral dan spiritual.

Karena itu, kisah Rangga Lawe maupun tokoh-tokoh Majapahit tidak tepat dipahami sebagai upaya menyamakan siapa pun yang kini menjadi bagian dari proses Muktamar NU. Setiap zaman memiliki tantangan dan konteks yang berbeda. Yang layak diwarisi bukan konflik masa lalunya, melainkan hikmah yang lahir dari perjalanan sejarah tersebut.

Nilai-nilai itulah yang tetap relevan hingga hari ini.

Bahwa legitimasi kepemimpinan lahir melalui mekanisme organisasi yang sah.

Bahwa amanah hanya dapat dijaga dengan kejujuran dan keterbukaan.

Bahwa fitnah, prasangka, serta adu domba hanya akan melemahkan persatuan yang telah dibangun para ulama selama lebih dari satu abad.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU telah melewati berbagai fase perjalanan bangsa, mulai dari perjuangan kemerdekaan, pembangunan nasional, hingga menghadapi tantangan global di era digital. Memasuki abad keduanya, NU membutuhkan kepemimpinan yang memiliki keluasan ilmu, keteguhan akhlak, kemampuan manajerial, serta visi yang mampu menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi pesantren.

Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan menjelang Muktamar bukanlah, “Apakah sejarah Majapahit akan terulang?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Sudahkah seluruh warga Nahdliyin belajar dari sejarah?

Apabila pelajaran sejarah benar-benar dihayati, maka Tambakberas tidak akan dikenang sebagai tempat yang menghidupkan kembali kisah konflik masa lalu. Sebaliknya, Tambakberas akan tercatat sebagai tempat lahirnya keputusan-keputusan besar yang memperkuat ukhuwah, memperteguh amanah, serta menjaga marwah Nahdlatul Ulama memasuki abad keduanya.

Pada akhirnya, kemenangan terbesar dalam sebuah Muktamar bukan hanya ketika seseorang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seluruh warga Nahdliyin tetap pulang sebagai saudara, menjaga persatuan, menjunjung tinggi akhlakul karimah, serta istiqamah mengabdi kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan.

Karena menjaga NU sejatinya adalah menjaga Indonesia. Dan menjaga Indonesia merupakan bagian dari ikhtiar besar merawat Islam yang rahmatan lil ‘alamin sebagai fondasi peradaban yang damai, adil, dan bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *