Mengenal Gus Kikin, Nakhoda Baru PBNU 2026–2031

KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin bukan hanya cicit Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, tetapi juga memiliki pengalaman sebagai pelaut, pengusaha, hingga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

KH Abdul Hakim Mahfudz

JOMBANG | Bangkit Nusantara News.id – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin resmi ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmah 2026–2031. Di balik amanah besar tersebut, tersimpan perjalanan hidup yang tidak biasa: lahir dari keluarga ulama, menempuh pendidikan pelayaran, berkarier di perusahaan pelayaran, terjun ke dunia usaha, hingga akhirnya mengemban amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Gus Kikin merupakan putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj. Abidah Ma’shum. Dari jalur ibu, nasabnya tersambung kepada Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, melalui Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari yang menikah dengan KH Ma’shum Ali, ulama ahli falak asal Gresik.

Sementara dari garis ayah, Gus Kikin memiliki hubungan keturunan dengan KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Dari jalur ini pula, ia memiliki hubungan keluarga dengan KH Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo.

Dari Pesantren hingga Sekolah Pelayaran

Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Parimono Jombang pada 1963–1970, bersamaan dengan pendidikan pesantren di Pesantren Seblak.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP 1 Jombang pada 1971–1973 dan SMA Jombang pada 1974–1977.

Namun, perjalanan pendidikannya kemudian mengambil jalur yang cukup berbeda dari kebanyakan santri. Gus Kikin menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta pada 1975–1979.

Pilihan tersebut membawanya memasuki dunia pelayaran. Ia bahkan menjalani praktik pelayaran dan tercatat pernah mengelilingi dunia sebanyak empat kali.

Pengalaman di laut kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Gus Kikin berkarier di perusahaan pelayaran BUMN Djakarta Lloyd.

Kariernya berkembang cukup cepat. Pada usia sekitar 30 tahun, ia dipercaya menjadi Kepala Cabang Djakarta Lloyd di Cilegon.

Setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia pelayaran, Gus Kikin memutuskan mengundurkan diri pada 1992. Ia kemudian mengembangkan usaha di bidang shipping dan logistik.

Perjalanan belajar juga terus dilanjutkan. Pada 2013, Gus Kikin menempuh pendidikan jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka sebagai bagian dari upayanya mengembangkan usaha media televisi.

Dari Dunia Usaha Kembali ke Pesantren

Perjalanan Gus Kikin kemudian berbelok kembali ke dunia pesantren.

Pada Januari 2016, ia diminta langsung oleh almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah untuk menjadi Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus mempersiapkan proses suksesi kepemimpinan.

Setelah melalui musyawarah keluarga besar Bani Hasyim, Gus Kikin kemudian dipercaya melanjutkan amanah sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng.

Amanah tersebut menempatkannya dalam posisi penting untuk meneruskan perjuangan dan tradisi keilmuan pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.

Di bawah amanah tersebut, Gus Kikin menaruh perhatian pada upaya menggali kembali pemikiran pendiri NU, termasuk Qanun Asasi yang menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Dari Tebuireng Menuju PBNU

Perjalanan Gus Kikin di NU akhirnya membawanya ke tingkat nasional.

Pengalaman panjang di dunia pesantren, organisasi, usaha, dan kepemimpinan menjadi modal yang mengiringinya hingga dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026–2031.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan wajah kepemimpinan yang lahir dari lintasan pengalaman yang beragam.

Ia pernah berada di ruang kelas pesantren, menempuh pendidikan pelayaran, mengarungi lautan, memimpin perusahaan, menjalankan usaha, kemudian kembali ke pesantren dan mengemban amanah organisasi.

Kini, tantangan Gus Kikin jauh lebih besar.

PBNU bukan sekadar organisasi yang memiliki struktur luas, tetapi jam’iyyah dengan jutaan warga Nahdliyin dan sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Dari pengalaman menghadapi gelombang di tengah lautan hingga menghadapi dinamika organisasi, Gus Kikin kini memegang kemudi PBNU.

Laut telah mengajarinya membaca arah angin. Pesantren mengajarinya membaca tradisi. Dunia usaha mengajarinya menghitung risiko. Dan NU kini memberinya amanah untuk menentukan arah perjalanan.

Pertanyaannya bukan lagi siapa Gus Kikin.

Pertanyaan berikutnya adalah ke mana kapal besar PBNU akan dibawa selama lima tahun masa khidmahnya.

Exit mobile version