JOMBANG | BANGKITNUSANTARANEWS.ID — Penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi perhatian luas warga Nahdliyin di berbagai daerah. Keputusan tersebut tidak hanya dipandang sebagai hasil mekanisme organisasi, tetapi juga memunculkan ruang refleksi mengenai perjalanan sejarah dan nilai-nilai spiritual yang telah lama menjadi fondasi jam’iyyah terbesar di Indonesia.
Sebelum keputusan itu ditetapkan, berbagai nama sempat mengemuka sebagai calon tuan rumah. Sejumlah kalangan memperkirakan Muktamar akan kembali digelar di Lirboyo, Kediri, sementara beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) maupun Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) juga mengusulkan daerah masing-masing.
Dinamika tersebut berlangsung cukup panjang sehingga arah keputusan akhir sulit diprediksi.
Ketika akhirnya pilihan jatuh kepada Tambakberas, sebagian warga Nahdliyin memandang keputusan tersebut sebagai momentum yang memiliki makna historis sekaligus spiritual. Meski demikian, secara organisatoris keputusan itu tetap dapat dipahami sebagai hasil musyawarah, pertimbangan teknis, kesiapan infrastruktur, serta komunikasi di lingkungan kepengurusan NU.
Semua itu merupakan bagian dari ikhtiar yang berjalan sesuai mekanisme organisasi.
Namun, bagi kalangan pesantren, NU bukan semata organisasi administratif. NU juga merupakan jam’iyyah diniyyah yang tumbuh dari tradisi sanad keilmuan, penghormatan kepada para masyayikh, budaya musyawarah, serta nilai keberkahan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Karena itu, tidak sedikit warga Nahdliyin yang memaknai setiap momentum besar dalam perjalanan NU sebagai perpaduan antara ikhtiar manusia dan kehendak Allah SWT.
Jejak Sejarah KH Abdul Wahab Chasbullah
Nama Tambakberas memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjuangan almaghfurlah KH Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama yang dikenal sebagai ulama visioner, pemikir kebangsaan, sekaligus tokoh strategis dalam perjalanan organisasi.
Warisan terbesar beliau bukan hanya berupa bangunan fisik atau lembaga pendidikan, melainkan nilai perjuangan, kecerdasan membaca zaman, serta semangat menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah melalui pendekatan yang moderat dan berakar kuat pada tradisi pesantren.
Dalam perspektif Islam Ahlussunnah wal Jamaah, perkara gaib merupakan hak prerogatif Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang dapat memastikan hubungan antara alam dunia dan alam barzakh di luar petunjuk Al-Qur’an dan hadis yang sahih.
Karena itu, pandangan yang berkembang di tengah masyarakat mengenai keberkahan para ulama hendaknya dipahami sebagai ekspresi spiritual, bukan sebagai klaim ilmiah ataupun kepastian teologis.
Tradisi tasawuf sendiri mengajarkan bahwa amal saleh, doa, ilmu, serta keteladanan para ulama dapat terus memberikan inspirasi kepada generasi penerus melalui murid-murid dan nilai-nilai yang mereka wariskan.
Dengan demikian, yang tetap hidup bukanlah sosok fisiknya, melainkan jejak keilmuan, akhlak, dan perjuangan yang terus menjadi pedoman.
Tambakberas Sebagai Simpul Sejarah NU
Banyak kalangan memandang kembalinya Muktamar ke Tambakberas bukan sebagai kemenangan sebuah daerah atas daerah lainnya.
Sebaliknya, momentum tersebut dipahami sebagai pengingat bahwa NU senantiasa memiliki akar kuat pada tradisi pesantren yang menjadi sumber lahirnya berbagai gagasan besar tentang pendidikan, kebangsaan, persatuan umat, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Tambakberas menjadi salah satu simpul penting dalam sejarah tersebut.
Karena itu, penyelenggaraan Muktamar di pesantren ini menghadirkan kesan emosional bagi sebagian warga Nahdliyin yang merasa seolah sedang kembali ke rumah besar perjuangan para pendiri NU.
Menangkap Hikmah, Bukan Memperdebatkan Hal Gaib
Di tengah berbagai pandangan yang berkembang, pesan utama yang dapat diambil bukanlah memperdebatkan ada atau tidaknya campur tangan alam gaib dalam setiap keputusan organisasi.
Sebaliknya, hikmah yang lebih penting adalah menjaga kerendahan hati, menghormati keputusan musyawarah, serta memperkuat persatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Seluruh pesantren besar NU merupakan mata rantai sanad keilmuan yang saling melengkapi dan menguatkan. Tidak semestinya penetapan lokasi Muktamar menjadi ruang persaingan antardaerah maupun antarpesantren.
Apabila terdapat pesan yang dapat dipetik dari perjalanan sejarah menuju Tambakberas, maka pesan tersebut adalah pentingnya menjaga hubungan dengan akar pesantren, menghormati para masyayikh, memelihara adab, dan menjadikan musyawarah sebagai jalan utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, alasan terdalam mengapa Tambakberas dipilih sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35 tetap menjadi bagian dari ketetapan Allah SWT yang hanya Dia Yang Maha Mengetahui.
Manusia hanya mampu berikhtiar dan membaca hikmah dari setiap peristiwa. Sebab sejarah Nahdlatul Ulama selalu dibangun melalui perpaduan antara usaha manusia, doa para ulama, nilai-nilai pesantren, serta kehendak Allah SWT yang melampaui seluruh perencanaan manusia.














