TULUNGAGUNG | Bangkit Nusantara News.id — Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, menjadi pusat perhatian nasional saat menerima kunjungan Tim Penilai Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026, Kamis (9/7/2026). Kehadiran tim penilai menjadi momentum penting untuk menampilkan keberhasilan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan melalui pengelolaan perhutanan sosial yang berkelanjutan.
Dalam suasana sejuk lereng Gunung Wilis, penyambutan berlangsung penuh semangat dan nuansa kebersamaan. Pemerintah Kecamatan Pagerwojo bersama masyarakat Desa Samar menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian lingkungan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.
Camat Pagerwojo dalam sambutannya menegaskan bahwa Penghargaan Wana Lestari bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan bentuk pengakuan terhadap dedikasi masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
“Janganlah kita meninggalkan air mata bagi anak cucu kita, tetapi tinggalkanlah mata air yang jernih dan melimpah untuk generasi yang akan datang,” ujar Camat Pagerwojo.
Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan sumber daya alam demi masa depan generasi berikutnya.
Desa Samar dinilai berhasil membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari tingkat rumah tangga. Pekarangan warga dipenuhi tanaman pangan, sayuran, hingga tanaman obat keluarga yang menjadi simbol kesadaran ekologis masyarakat.
Keberhasilan terbesar ditunjukkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Sumber Lestari yang berdiri sejak tahun 2010. Selama lebih dari satu dekade, kelompok ini telah menanam lebih dari 10.000 pohon serta mengelola kawasan perhutanan sosial seluas 600,3 hektare.
Dampak nyata dari upaya tersebut terlihat pada tetap terjaganya 15 titik mata air alami yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekaligus memasok aliran air menuju Bendungan Wonorejo, salah satu infrastruktur vital di Kabupaten Tulungagung.
Keberhasilan Desa Samar tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Kelompok Tani Hutan.
Berbagai inovasi terus dikembangkan, mulai dari produksi pupuk kompos, budidaya madu klanceng, kerajinan bambu, hingga integrasi peternakan sapi perah dengan pengelolaan kawasan hutan.
Model pemberdayaan tersebut membuktikan bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat apabila dikelola melalui semangat gotong royong.
Sebagai penutup acara, Camat Pagerwojo menyampaikan pantun yang sarat makna sebagai ajakan menjaga kelestarian alam.
“Air mengalir menuju ngarai,
Jernih bening sepanjang masa;
Jika hutan tetap lestari,
Rakyat sejahtera, bangsa berjaya.”
Ia juga berharap Desa Samar memperoleh hasil terbaik dalam penilaian Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2026. Namun menurutnya, penghargaan tertinggi bukanlah trofi atau piagam, melainkan tetap lestarinya hutan yang mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Semangat yang tumbuh di Desa Samar menjadi bukti bahwa pembangunan berkelanjutan hanya dapat diwujudkan ketika manusia memandang alam bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijaga bersama.
Melalui kerja keras, kolaborasi, dan kepedulian terhadap lingkungan, Desa Samar menunjukkan bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan bangsa. (Mlmn)















